UPDATE: Varian Delta di RI, Begini Keterangannya

  • Share

JAKARTA– Masuknya varian Delta membuat angka kasus Covid-19 di Indonesia tinggi. Disebut ada kegagalan cegah-tangkal membuat banyak orang dari luar negeri mudah masuk ke Indonesia.

Data 24 jam, Senin (12/7/2021), jumlah kasus secara nasional masih bertambah semenjak gelombang kedua pandemi corona masih melanda Indonesia. Catatan angka kasus masih tinggi, lebih 36 ribu sehingga total mencapai 2,5 juta kasus. 

Berita terkait:

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan ciri-ciri utama Delta adalah angka CT yang rendah dan masa aktif lebih cepat. “Masa aktifnya cepat, sembuh bisa cepat tapi meningkatkan keparahan lebih cepat sehingga penanganan di rumah sakit harus berbeda,” katanya dalam konferensi pers, Jumat lalu. Dilansir berita katadata.co.id

Angka CT yang tinggi menandakan jumlah siklus yang tinggi dan jumlah virus yang sedikit. Ambang batas ideal nilai CT, melansir dari situs Mayapada Hospital, adalah 35 sampai 40. 

Penemuan Jenasah di jalan Ahmad Yani (Timur Pasar Purwodadi) korban berada diatas becak diketahui korban bernama Ny. S alamat Jl Wolter Monginsidi Gang 7 Desa Dadi Mulya Kecamatan Samarinda Ulu Kota Provinsi Kalimantan Timur, korban langsung di bawa ke RS. Raden Soedjati (11/07) Dok Jurnalpantura.id

Sejak Delta ditemukan di negara ini, pada akhir bulan lalu, rata-rata CT di sejumlah daerah mengalami penurunan dibandingkan Desember 2020. Budi mencontohkan, CT terendah di Sumatera Barat pada Desember 2020 sebesar 12,15. Setelah ada Delta, angka turun jadi 8,22. 

Terima kasih anda memberikan kepercayaan dengan membaca metroluwuk.com jaringan ZONAUTARA NETWORK. Simak informasinya. Tolak hoaks jadilah pembaca yang bijak.

Kondisi serupa juga terjadi di Jakarta, Kudu, dan Bangkalan. Ketiga daerah ini memiliki CT terendah sebesar 9,54. 

Bagaimana Virus Delta Masuk ke Indonesia?

Varian Delta muncul di India pertama kali pada April lalu. Melansir dari BBC, virus ini menyebabkan gelombang kedua yang sangat parah ke negara tersebut. Angka kasus hariannya sempat mencapai lebih 400 ribu orang.

Infeksinya begitu cepat sehingga layanan rumah sakit, tenaga medis, hingga petugas makam kewalahan. Pasokan oksigen sempat kritis, begitu pula ranjang rumah sakit. Banyak pasien akhirnya meninggal tanpa sempat mendapatkan penanganan rumah sakit. 

Pada saat itu, banyak negara memutuskan tidak menerima penerbangan atau pelancong dari India untuk sementara. Termasuk dalam daftar ini adalah Uni Eropa, Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan Thailand.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan gelombang infeksi COVID-19 di India adalah hasil dari “badai sempurna” dari pertemuan massal, varian yang lebih menular dan tingkat vaksinasi yang rendah. Dok Aljazerah, 27 Apr 2021.

Indonesia melakukan langkah serupa pada 25 April 2021. Khusus warga negara Indonesia atau WNI yang tinggal atau mengunjungi India dalam kurun waktu 14 hari dan ingin kembali ke negara ini tetap dapat masuk dengan protokol kesehatan yang ketat. 

Baca juga:

Dalam catatan Katadata.co.id, ada 12 penumpang terkonfirmasi positif Covid-19. Pesawat itu datang dari Chennai ke Bandar Udara Soekarno Hatta menggunakan maskapai AirAsia dengan kode penerbangan QZ-988.

Sebelum kejadian ini, ramai pula berita di media soal banyaknya WNA India yang masuk ke Indonesia, terutama melalui perjalanan udara. Kepala Sub-Direktorat Karantina Kesehatan Ditjen P2P Kemenkes Dokter Benget membenarkan hal tersebut. “Kemarin sudah banyak warga India masuk ke Indonesia, banyak sekali,” katanya di Pekanbaru pada 22 April 2021.

Lalu, pada Mei 2021, Riau sempat masuk tiga besar penyumbang tambahan kasus baru Covid-19 di Indonesia. Kondisi ini tak pernah terjadi sebelumnya karena selalu didominasi wilayah Jawa.

Lonjakan kasus terjadi setelah Satuan Tugas Penanggulangan Covid-19 di Riau menemukan warga negara India yang positif virus corona. Pada 27 April 2021, sebuah kapal pengangkut minyak kelapa sawit atau CPO dari India bersandar di Pelabuhan Dumai. Kru kapal ini terdiri dari satu orang kapten dan 22 Anak buah kapal atau ABK.

Beberapa hari kemudian, kapten kapal menunjukkan gejala demam dan sesak napas. Setelah dites, kapten dan empat ABK positif Covid-19. Mereka menunjukkan gejala sedang dan berat sehingga mendapat perawatan khusus di Pekanbaru. 

“Seperti diketahui bahwa dari periode 28 Desember 2020 hingga 25 April 2021 kita mendapatkan 59 kasus positif dari para pelaku perjalanan dari negara India,” ujar Nadia dalam keterangan video yang disampaikannya, Kamis (6/5/2021). Dok kompas.com

Sebulan setelah kejadian-kejadian tersebut, gelombang kedua virus corona melanda Indonesia. Varian baru ditemukan di Jakarta dan Kudus, Jawa Tengah, dua lokasi lonjakan kasus bermula.  

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane menyebut, varian Delta menjadi penyebab kenaikan kasus.  Dalam prediksinya, Jakarta akan mengalami kenaikan kasus 400%, Depok 305%, Bekasi 500%, Jawa Tengah 898%, dan Jawa Barat 104%.

Lonjakan tersebut terjadi bukan karena dampak mudik Lebaran 2021. “Tapi karena kegagalan cegah-tangkal, yang berakibat masuknya varian baru ke Indonesia,” katanya pada Juni lalu. 

Ia menyebutnya kebobolan. Banyak orang masuk ke Indonesia dari luar negeri dengan ketentuan hanya lima hari karantina. “Padahal, seharusnya 14 hari berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),” ujar Masdalina. Sebagaimana diberitakan. Sumber katadata.co.id. ***

Berita lainnya:

  • Share