Harga Beras Lokal Anjlok,’Petani Dililit Utang’

  • Share

BANGGAI– Diperkirakan panen padi di wilayah Sulteng akan terjadi Juni nanti, dipastikan menjaga ketersediaan stok pangan di tengah pandemi virus corona (covid-19).

“Kita masih surplus lebih kurang 90 ribu ton beras dengan asumsi konsumsi beras 118 kg per kapita,” jelas Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Sulteng Ir. Trie Iriany Lamakampali, dalam keterangan tertulis, Selasa (15/6/2021).

Berita terkait: Harga CPO Turun 2% di Susul Minyak Mentah Global Melemah Diposisi 0,6%

Namun, bagi petani di wilayah Desa Makapa, Mantawa, Karya Makmur, Lembah Keramat,  Sindang Sari, Kamiwangi Kecamatan Toili Barat, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Menjadi mimpi buruk.

Disaat stok Dolog mengalami surplus beras namun, harga beras lokal anjlok dipasaran dengan harga jual perkarung senilai Rp 380 s/d 390. Untuk harga beras kepala Makassar Rp 400 dipasar dan diluar pasar Rp 420,00. Dampak ini menimbulkan persaingan harga dan kualitas menyusul gabah dan beras akan rusak karena lama menumpuk menunggu, putaran modal dari penjualan beras.

“Kami, merasa bersaing harga beras lokal dan kualitas beras kepala asal Makassar beredar di pasar dan kios di Mantawa ini,” ujar Nyoman warga Desa Karya Makmur.

Terima kasih anda memberikan kepercayaan dengan membaca metroluwuk.com jaringan ZONAUTARA NETWORK. Simak informasinya. Tolak hoaks jadilah pembaca yang bijak.

Di Toili Barat saat ini hampir semua petani mengeluh dengan situasi pasar beras yang dianggap masih terjangkau tetapi kurang diminati warga. Hal ini dikhawatirkan menjadi masalah berkepanjangan antar petani dan pemasok asal Makassar. Belum lagi dibulan Juni 2021 memasuki musim panen. Sementara Bulog menolak stok beras lokal.

“Mau disimpan dimana lagi beras hasil panen nanti. Sementara hasil panen lalu, masih menumpuk,” katanya.

Kami, bukan ingin menguasai pasar beras tetapi, dampak yang diterima sangat merisaukan. Bayangkan, kalau petani di Toili Barat panen dibulan juni dengan luas sawah sekitar 4.900 hektare dan Kecamatan Toili 5.200 hektare demikian pula petani yang ada di Kecamatan Moilong. Sementara beras saat ini di Toili Barat tidak ada yang menampung.

“Situasi ini akan makin berat kalau tidak ada upaya serius Pemerintah daerah untuk membereskan masalah ini. Maka beras kami akan rusak, apalagi saat ini masuk musim hujan.” Katanya. Sambung dia,

  • Share